
MEDIAKASASI | BOGOR-Lebih dari 50 anak dari panti asuhan yang telah berkolaborasi dalam Program Prodject Bagi Ilmu Gratis di Panti Asuhan by @prodjectkilat.co mengikuti rangkaian Olimpiade 1.0 @prodjectkilat.co 2026. Mereka berasal dari panti asuhan muslim maupun non-muslim di Bogor. Namun, perjalanan menuju olimpiade tidak dimulai pada hari perlombaan. Selama berbulan-bulan, anak-anak belajar bersama tim @prodjectkilat.co melalui kelas gratis yang dilaksanakan setiap pekan.
Dalam proses itulah perkembangan akademik mereka diamati secara konsisten. Bukan melalui satu ujian besar, melainkan dari bagaimana mereka bertumbuh setiap kali belajar.
Dari proses tersebut dipilih peserta dengan perkembangan akademik terbaik untuk menjadi finalis. Di babak akhir, para finalis kembali diuji melalui tiga pilar karakter: keberanian, kepercayaan diri, dan labelling emosi. Empat pilar itulah—akademik, keberanian, kepercayaan diri, dan labelling emosi—yang menjadi dasar penentuan juara.
Dari seluruh rangkaian penilaian tersebut, satu nama akhirnya dinobatkan sebagai Juara Olimpiade 1.0 @prodjectkilat.co 2026. Namanya adalah Dinda Permatasari, siswi dari Mizan Amanah Tanah Baru, Kota Bogor.
Selain Dinda, Nishva Maulida dari PYI Ciomas Bogor juga meraih juara runner up Olimpiade 1.0 @prodjectkilat.co 2026.
Bagi @prodjectkilat.co, Olimpiade 1.0 tidak pernah dirancang untuk mencari anak yang paling cepat menjawab pertanyaan.
Olimpiade ini lahir untuk menemukan anak-anak yang mampu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan dan karakter dapat tumbuh secara bersamaan.
Karena itu, format penilaiannya dibuat berbeda. Akademik telah dinilai jauh sebelum hari perlombaan melalui proses belajar rutin di Program Prodject Bagi Ilmu Gratis di Panti Asuhan.
Babak final kemudian menjadi ruang bagi para peserta untuk menunjukkan keberanian berbicara, kepercayaan terhadap dirinya sendiri, dan kemampuan mengenali serta mengelola emosi.
Format ini sesuai dengan misi program gratis kami,” jelas tim @prodjectkilat.co.
“Kami ingin meningkatkan percaya diri, keberanian mengambil risiko yang terukur, dan kemampuan labelling emosi sebagai bekal anak-anak mengontrol dirinya. Semua itu kami bangun di atas fondasi akademik melalui pembelajaran yang dilakukan setiap minggu. Ini adalah long-term game,” jelasnya lagi.
“Kami percaya, Indonesia tidak kekurangan anak pintar. Yang dibutuhkan adalah anak-anak yang cerdas dan berkarakter.”



